Sektor Jasa Keuangan di Sulsel Tetap Resilien, OJK Catat Pertumbuhan Positif pada Maret 2025

Kantor Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat menilai bahwa sektor jasa keuangan di wilayah Sulawesi Selatan tetap berada dalam kondisi stabil dan resilien.

MAKASSAR,DJOURNALIST.com — Kantor Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat menilai bahwa sektor jasa keuangan di wilayah Sulawesi Selatan tetap berada dalam kondisi stabil dan resilien.

Hal ini disampaikan di tengah meningkatnya dinamika perekonomian global maupun domestik yang turut memengaruhi kinerja keuangan di berbagai daerah.

Kepala Kantor OJK Sulselbar, Moh Muchlasin, menyatakan bahwa stabilitas sektor jasa keuangan di wilayahnya tercermin dari pertumbuhan positif di berbagai lini industri jasa keuangan, termasuk sektor Perbankan (PBKN) Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon (PMDK) Perasuransian, Penjaminan, dan Dana Pensiun (PPDP) serta Lembaga Pembiayaan, Perusahaan Modal Ventura, Lembaga Keuangan Mikro, dan Lembaga Jasa Keuangan Lainnya (PVML).

“Kinerja sektor jasa keuangan tetap stabil dan resilient dalam mendukung perekonomian regional maupun nasional,” ujar Muchlasin.

Pada posisi Maret 2025, OJK Sulselbar mencatat pertumbuhan industri perbankan di wilayah Sulampua (Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, dan Sulawesi Barat) secara tahunan (year-on-year/yoy) yang positif di hampir seluruh indikator utama.

Total aset perbankan tumbuh sebesar 5,91 persen (Rp11,44 triliun) sehingga mencapai Rp204,99 triliun. Dana Pihak Ketiga (DPK) juga meningkat 6,55 persen atau sebesar Rp8,44 triliun menjadi Rp137,34 triliun. Sementara itu, total penyaluran kredit naik sebesar 3,76 persen (Rp6,01 triliun) menjadi Rp165,78 triliun.

Dari sisi penggunaan, kredit produktif tercatat tumbuh tipis 0,20 persen, dengan total penyaluran mencapai Rp89,39 triliun. Adapun rasio kredit bermasalah (Non-Performing Loan/NPL) untuk kredit produktif tercatat sebesar 3,90 persen.

Sementara itu, kredit konsumtif menunjukkan pertumbuhan tertinggi, yakni sebesar 8,27 persen, dengan total penyaluran mencapai Rp76,89 triliun. Rasio NPL untuk kredit konsumtif berada pada level 1,65 persen.

Rendahnya rasio NPL pada kedua jenis kredit tersebut menunjukkan bahwa penyerapan kredit di Sulawesi Selatan berada dalam kondisi yang relatif sehat dan terjaga.(#)

Comment