Operasi Darat dan Udara dalam Penanganan Karhutla Kalsel

Visual pemadaman kebakaran hutan dan lahan di Kecamatan Gambut, Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan. Jumat (21/8) (foto: BNPB)

Visual pemadaman kebakaran hutan dan lahan di Kecamatan Gambut, Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan. Jumat (21/8) (foto: BNPB)

DJOURNALIST.com – Penanganan karhutla di Pulau Kalimantan terus menjadi prioritas pemerintah, termasuk di Provinsi Kalimantan Selatan (Kalsel). Hingga Jumat (21/8), terdeteksi kejadian karhutla di sembilan wilayah, yakni Kota Banjarbaru, Kabupaten Banjar, Barito Kuala, Tapin, Tanah Bumbu, Tanah Laut, Hulu Sungai Selatan, Hulu Sungai Tengah, dan Balangan.

Berdasarkan pemantauan tim Direktorat Penanganan Darurat Wilayah III BNPB, terdeteksi 53 titik api (FS) dengan estimasi luasan lahan terbakar sekitar 595 hektare. Wilayah dengan estimasi luasan terbesar berada di Kabupaten Banjar sekitar 174 hektare, Kabupaten Tanah Laut 107 hektare, Kabupaten Barito Kuala 96 hektare, dan Kabupaten Tapin 85 hektare.

Operasi darat terus dilakukan secara terpadu dengan mengerahkan sekitar 387 personel yang terdiri dari BPBD, Manggala Agni, TNI, Polri, relawan, dan masyarakat. Penanganan dilakukan di sejumlah wilayah, antara lain Kabupaten Banjar, Kota Banjarbaru, Kabupaten Tapin, Tanah Bumbu, Hulu Sungai Selatan, Tanah Laut, Hulu Sungai Utara, Balangan, dan Barito Kuala. Pemadaman darat didukung sejumlah armada dan peralatan seperti mobil tangki air, pompa jinjing dan pompa induk, suplai air, tanki fleksibel, alat penyemprot, kepyok, garu tajam, serta motor trail karhutla.

Di Kabupaten Banjar, pemadaman dilakukan di Kecamatan Gambut, Beruntung Baru, dan Karang Intan dengan luas area terbakar sekitar 31,5 hektare. Hingga Jumat (21/8), sekitar 7,5 hektare telah berhasil dipadamkan. Di Kota Banjarbaru, pemadaman dilakukan di Kecamatan Banjarbaru Selatan, Liang Anggang, Landasan Ulin dan Cempaka dengan luas area terbakar sekitar 7 hektare dan berhasil dipadamkan 3,5 hektare. Di Kabupaten Tapin, pemadaman dilakukan di Kecamatan Tapin Utara dan Tapin Tengah dengan luas area terbakar 5 hektare dan berhasil dipadamkan sekitar 1,5 hektare. Sedangkan di Kabupaten Tanah Bumbu, luas area terbakar di Kecamatan Batulicin seluas 4 hektare dan berhasil dipadamkan 2 hektare.

Selanjutnya di Kabupaten Hulu Sungai Selatan, pemadaman dilakukan di Kecamatan Kandangan, Daha Selatan dan Kalumpang dengan luas area terbakar 8,6 hektare dan 3,3 hektare berhasil dipadamkan. Di Kabupaten Tanah Laut, penanganan dilakukan di Kecamatan Pelaihari, Tambang Ulang, Takisung, dan Bati-Bati dengan luas terbakar sekitar 67 hektare dan sekitar 11 hektare telah berhasil dipadamkan. DI Kabupaten Hulu Sungai Utara, luas area terbakar di Kecamatan Amuntai seluas 1 hektare lahan dan berhasil dipadamkan.

Sementara di Kabupaten Balangan, luas area terbakar 1 hektare di Kecamatan Batumandi dan berhasil dipadamkan. Terakhir di Kabupaten Barito Kuala, luas area terbakar 1,5 hektare di Kecamatan Marabahan dan juga berhasil dipadamkan.

Selain operasi darat, BNPB memperkuat penanganan melalui operasi udara. Armada yang disiagakan di Lanud Sjamsudin Noor terdiri dari dua unit patroli udara dan tiga unit helikopter water bombing.

Patroli udara menggunakan helikopter Bell 206 Reg. PK-IWF dan pesawat Cessna Caravan C208 Reg. PK-SNK dengan waktu terbang 4 jam 35 menit dan menemukan 29 titik api dengan estimasi luasan lahan terbakar sekitar 536 hektare.

Sementara itu, operasi water-bombing menggunakan tiga helikopter. Helikopter AS 322C1 Super Puma Reg. PK-DAN melaksanakan 245 kali penjatuhan air dengan total sekitar 980.000 liter, helikopter MI8-AMT Reg. RA-22834 melakukan 57 kali penjatuhan air dengan total sekitar 228.000 liter, sedangkan helikopter Sikorsky Black Hawk Reg. N711BF melakukan 82 kali penjatuhan air dengan total sekitar 328.000 liter.

Operasi udara tersebut diprioritaskan untuk menjangkau lokasi yang sulit diakses melalui jalur darat, terutama wilayah yang mendekati permukiman masyarakat dan kawasan Ring 1 Bandara Sjamsudin Noor Banjarbaru. Sementara operasi darat tetap dimaksimalkan pada lokasi yang berada di area IUP/HGU.

Penanganan karhutla di Kalsel masih menghadapi sejumlah tantangan, antara lain angin kencang yang mempercepat perluasan api, akses menuju titik api yang sulit, keterbatasan sumber air, serta keberadaan sejumlah titik api di wilayah pertambangan dan perkebunan yang tidak dapat dijangkau operasi water bombing.

BNPB bersama pemerintah daerah dan unsur terkait terus mengoptimalkan operasi darat dan udara untuk mengendalikan karhutla. Pengoperasian helikopter akan disesuaikan dengan kebutuhan di lapangan, sedangkan operasi modifikasi cuaca dilakukan berdasarkan pemantauan potensi pertumbuhan awan hujan bersama BMKG.

BNPB mengimbau pemerintah daerah memperkuat kesiapsiagaan, pemantauan, deteksi dini, serta memastikan ketersediaan sarana dan prasarana pemadaman. Masyarakat juga diimbau tidak melakukan aktivitas pembakaran di wilayah yang rawan terbakar. Apabila menemukan kejadian kebakaran, masyarakat diminta segera melaporkan kepada otoritas setempat agar penanganan dapat dilakukan secara cepat dan efektif. (**)

Adapun rincian sebaran titik api dan estimasi luasan lahan pada sembilan wilayah yang berada pada zona wilayah risiko tinggi meliputi:

Kota Banjarbaru: terdeteksi 11 FS dengan luasan 77 Ha
Kabupaten Banjar: terdeteksi 13 FS dengan luasan 174 Ha
Kabupaten Barito Kuala: terdeteksi 4 FS dengan luasan 96 Ha
Kabupaten Tapin: terdeteksi 6 FS dengan luasan 85 Ha
Kabupaten Tanah Bumbu: terdeteksi 3 FS dengan luasan 4 Ha
Kabupaten Tanah Laut: terdeteksi 7 FS dengan luasan 107 Ha
Sedangkan wilayah dengan zona sedang dan rendah, sebagai berikut.

Kabupaten Hulu Sungai Selatan: terdeteksi 7 FS dengan luasan 50 Ha
Kabupaten Hulu Sungai Tengah: terdeteksi 1 FS dengan luasan 1 Ha
Kabupaten Balangan: terdeteksi 1 FS dengan luasan 1 Ha

Comment