Ketika Budaya Mengistimewakan Anak Laki-Laki Menjadi Luka Batin: Sebuah Kisah dari Dalam Keluarga Tionghoa

Vivi, seorang pengusaha Tionghoa Makassar, owner Hermin Salon.

MAKASSAR,DJOURNALIST.com – Di balik etalase bisnis keluarga yang tampak mapan dan sukses, ada kisah getir yang jarang terdengar: luka batin perempuan yang terpinggirkan dalam sistem keluarga yang terlalu memuja anak laki-laki.

Budaya keluarga Tionghoa selama berabad-abad dikenal menganut sistem patrilineal dan patriokal, di mana garis keturunan dan kekuasaan keluarga diwariskan kepada anak laki-laki. Dalam sistem ini, anak perempuan kerap dianggap sebagai “tamu di rumah sendiri” — ada, namun tak sepenuhnya memiliki.

“Saya adalah anak pertama. Saya dan adik saya hanya dua bersaudara. Tapi sejak kecil, semua keputusan penting selalu menempatkan adik laki-laki saya di atas saya. Semua ini berakar dari budaya yang menuhankan anak laki-laki,” tutur Vivi, seorang pengusaha Tionghoa Makassar, owner Hermin Salon.

Adik laki-lakinya, JH, kini adalah pemilik enam pabrik air mineral di Makassar. Sementara sang kakak, selama puluhan tahun, bekerja bersama ibunya membesarkan Hermin Salon — usaha keluarga yang menjadi fondasi banyak aset yang kini berpindah tangan tanpa izin atau pengakuan layak.

Dari Ketimpangan Warisan Hingga Kekerasan Psikologis

Perseteruan memuncak ketika istri JH, yang dikenal materialistis dan kasar secara verbal, mulai melibatkan staf dan bahkan aparat dalam konflik internal keluarga. Fitnah dan pembunuhan karakter sempat dilaporkan ke Krimsus Polda Sulsel, namun kasus itu mengendap tanpa kejelasan.

Ironisnya, ketika korban melaporkan tindakan kekerasan verbal dan ancaman fisik, justru sebaliknya ia yang dilaporkan balik, dengan klaim-klaim yang dinilai palsu. “Yang disebut rumahnya itu adalah hasil keringat saya dan ibu saya. Tapi mereka memperlakukan saya seolah tak punya andil,” ungkapnya.

Dalam banyak momen genting — seperti saat ia harus menjalani operasi katarak karena penglihatan tinggal 30% — pengambilan keputusan mengenai penjualan tanah warisan justru dihambat oleh adiknya sendiri.

“Uangnya saya butuhkan untuk menyelamatkan mata saya, tapi dia memaksa saya tanda tangan syarat tidak boleh menghubungi dia selamanya. Ini pelecehan emosional,” katanya dengan suara berat.

Diskriminasi dalam Bungkus Tradisi

Fenomena ini bukan hal baru. Dalam penelitian oleh Suliyati (2002), disebutkan bahwa dalam budaya Tionghoa, anak laki-laki dianggap sebagai penerus marga dan pewaris utama, sementara anak perempuan lebih sering dikorbankan demi menjaga keharmonisan keluarga — meskipun mereka yang bekerja dan menghasilkan.

Ketika sang ibu masih hidup, sempat menyampaikan niat menyerahkan ruko milik salon kepada adik laki-lakinya. “Saya mengiyakan saja karena rasa kasih sebagai kakak. Tapi tidak berarti mereka bisa menghapus kontribusi saya begitu saja,” katanya.

Kini, aset-aset seperti rumah di Puri Mutiara, the mutiara, citraland, Jalan Macan, ruko di Hasanuddin, bahkan tabungan usaha salon — semua dikuasai adik tanpa diskusi.

“Jangankan setahun, sehari pun mereka tak pernah kerja di salon. Tapi mereka merasa paling berhak,” lanjutnya.

Kritik terhadap Budaya yang Menjadi Luka

Kasus ini menegaskan bahwa budaya patriarki yang mengistimewakan anak laki-laki bukan hanya usang, tapi juga kejam. Ia memupuk ketimpangan, melahirkan kepribadian serakah, dan menciptakan keluarga yang retak dari dalam.

Vivi menyebut perilaku adiknya dan sang istri sebagai gejala Narcissistic Personality Disorder (NPD) — gangguan kepribadian yang ditandai dengan rasa superioritas dan minim empati terhadap orang lain.

“Kalau adik saya sudah tak menganggap saya sebagai kakak, maka kembalikanlah semua material yang berasal dari keringat saya. Jangan bangga berdiri di atas jerih payah orang lain. Siri na pacce!” katanya, menyitir nilai Bugis-Makassar tentang harga diri dan empati.

Penutup

Warisan bukan sekadar soal harta, tetapi tentang keadilan. Budaya yang membela satu anak dan melupakan yang lain bukanlah budaya keluarga, melainkan bentuk baru perampasan yang dibungkus adat. Kisah ini adalah panggilan — agar perempuan dalam keluarga manapun, khususnya dalam budaya yang patriarkis, tidak lagi dipaksa diam atas nama tradisi.(#)

Comment