Dorong Ekonomi Berbasis Komoditas, OJK Sulselbar Perkuat Program KUR Pisang dan FGD Kakao

Kantor Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat menilai bahwa sektor jasa keuangan di wilayah Sulawesi Selatan tetap berada dalam kondisi stabil dan resilien.

MAKASSAR,DJOURNALIST.com — Dalam upaya berkelanjutan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi berbasis potensi lokal, Kantor OJK Provinsi Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat (KOMS) bersama Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan terus menggulirkan program strategis yang menyasar sektor-sektor unggulan. Fokus utama diarahkan pada pengembangan komoditas pertanian yang memiliki nilai ekonomi tinggi dan berorientasi ekspor.

Salah satu langkah konkret adalah pelaksanaan Program Pengembangan Ekonomi Daerah Komoditas Pisang Cavendish.

Sejak diluncurkan pada 2024, program ini didukung melalui skema Kredit Usaha Rakyat (KUR) dan telah menyalurkan pembiayaan sebesar Rp7,24 miliar kepada 77 petani di enam kabupaten/kota, dengan total cakupan lahan mencapai 73,5 hektare. Penyaluran terbesar terjadi di Kabupaten Bone, yakni sebesar Rp3,65 miliar.

Komoditas pisang Cavendish dikenal memiliki pasar ekspor yang luas, terutama ke negara-negara Asia Timur dan Timur Tengah. Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat bahwa ekspor pisang nasional mencapai 215 ribu ton pada tahun 2023, dengan nilai lebih dari US$150 juta, di mana Sulawesi Selatan menjadi salah satu kontributor utama dari wilayah Indonesia timur.

Kepala OJK Sulselbar, Moch. Muchlasin, menyatakan bahwa program ini bukan hanya tentang pembiayaan, tetapi juga penguatan kapasitas petani dan pengembangan ekosistem agribisnis berkelanjutan. “Dengan pendekatan hulu-hilir yang terintegrasi, kami ingin komoditas unggulan seperti Cavendish bisa naik kelas dan bersaing di pasar global,” ujarnya.

Tak hanya berhenti pada pisang, pada tahun 2025 OJK KOMS juga menyelenggarakan Focus Group Discussion (FGD) Pengembangan Ekonomi Daerah yang secara khusus membahas komoditas kakao. Kegiatan ini mempertemukan berbagai pemangku kepentingan, termasuk pemerintah daerah, pelaku usaha, dan akademisi, untuk merumuskan solusi terhadap tantangan yang dihadapi industri kakao lokal.

Sektor kakao sendiri memiliki peran penting dalam perekonomian Sulawesi Selatan. Provinsi ini merupakan salah satu produsen kakao terbesar di Indonesia, dengan total produksi mencapai 108 ribu ton pada tahun 2023, berdasarkan data Kementerian Pertanian. Meski begitu, tantangan seperti rendahnya produktivitas, keterbatasan akses pasar, dan minimnya teknologi pengolahan masih menjadi pekerjaan rumah bersama.

Melalui FGD tersebut, OJK mendorong lahirnya kebijakan yang lebih tepat sasaran, termasuk penguatan pembiayaan UMKM kakao, integrasi rantai pasok, serta adopsi teknologi pertanian modern. Harapannya, kakao tidak hanya menjadi komoditas bahan mentah, tapi juga mendorong lahirnya industri olahan bernilai tambah di daerah.

Muchlasin menambahkan, pihaknya percaya bahwa kolaborasi lintas sektor menjadi kunci dalam membangun ekonomi daerah yang inklusif dan berkelanjutan. Baik Cavendish maupun kakao, keduanya punya potensi besar untuk membawa Sulawesi Selatan menjadi pusat agroindustri nasional.(#)

Comment