MAKASSAR,DJOURNALIST.com – Perubahan iklim telah memberikan dampak yang signifikan di Sulawesi Selatan, terutama dalam hal ketersediaan air bersih, produktivitas pertanian, dan ketahanan pangan.
Cuaca ekstrem yang diperparah oleh perubahan iklim telah mengakibatkan banyak bencana alam seperti banjir, tanah longsor, dan krisis air bersih.
Menurut data dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), curah hujan di Sulawesi Selatan telah meningkat secara signifikan dalam beberapa tahun terakhir. Hal ini telah menyebabkan banjir dan tanah longsor di beberapa wilayah di Sulawesi Selatan.
Selain itu, perubahan iklim juga telah mempengaruhi produktivitas pertanian di Sulawesi Selatan. Menurut data dari Dinas Pertanian dan Kehutanan Sulawesi Selatan, produksi padi di Sulawesi Selatan telah menurun secara signifikan dalam beberapa tahun terakhir. Hal ini telah menyebabkan krisis pangan di beberapa wilayah di Sulawesi Selatan.
Produksi padi di Sulawesi Selatan menurun secara signifikan dalam beberapa tahun terakhir, dengan rata-rata produksi 4,3 juta ton/tahun. (Sumber: Dinas Pertanian dan Kehutanan Sulawesi Selatan)
Untuk mengatasi dampak perubahan iklim, Pemerintah Kanada memfasilitasi World Agroforestry International Center For Research In Agroforestry (ICRAF) dan Bappelitbangda Sulsel menyusun Roadmap atau peta jalan ekonomi hijau Provinsi Sulsel.
Rencana ini bertujuan untuk mengelola sumber daya alam secara lestari, menyinergikan strategi pembangunan dengan keberlanjutan lingkungan, serta menjawab berbagai isu strategis daerah, seperti perubahan iklim, risiko bencana, dan pemenuhan pangan nasional.
Menurut Sekda Sulsel Dr. H. Jufri Rahman, mengungkapkan, Rencana ini dirancang untuk menyeimbangkan pertumbuhan ekonomi dengan kesehatan lingkungan serta kesejahteraan masyarakat.
“Kami ingin buktikan bahwa pembangunan tidak mesti mengorbankan aspek sosial dan kesehatan lingkungan,” ujarnya dalam acara konsultasi publik Rencana Induk dan Peta Jalan Pertumbuhan Ekonomi Hijau Sulawesi Selatan, Kamis (27/2/2025 di Makassar.
Rencana Induk dan Peta Jalan Pertumbuhan Ekonomi Hijau Sulsel juga mendapat dukungan dari Pemerintah Kanada melalui proyek Land4Lives.
Sementara Duta Besar Kanada untuk Indonesia dan Timor Leste, H.E. Jess Dutton mengatakan bahwa Kanada sangat bangga dengan upaya yang telah dilakukan dan dukungan yang telah diberikan terhadap petani kecil dan masyarakat di Sulawesi Selatan.
Rencana Induk dan Peta Jalan Pertumbuhan Ekonomi Hijau Sulsel dirancang untuk mengelola sumber daya alam secara lestari, menyinergikan strategi pembangunan dengan keberlanjutan lingkungan, serta menjawab berbagai isu strategis daerah.
Dengan demikian, Sulawesi Selatan dapat menjadi contoh dalam pembangunan berkelanjutan dan berkontribusi terhadap pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs) di Indonesia.
Direktur ICRAF Indonesia, Andre Ekadinata, mengungkapkan, semua negara di dunia sangat rentan terhadap perubahan iklim. Karena itu, roadmap ini disusun agar daerah kita memiliki ketahanan iklim.
“Ketahanan iklim tidak sama dengan kebal bencana iklim,” kata Andre.
Berketahanan iklim, ungkap Andre, berarti pada saat bencana iklim datang nanti Sulsel punya kekuatan sehingga ekonomi Sulsel tidak runtuh. Selanjutnya, Sulsel punya kemampuan untuk tetap tumbuh di tengah seluruh ancaman perubahan iklim.
“Kemampuan untuk tetap tumbuh di tengah ancaman perubahan iklim ini membutuhkan dukungan semua pihak, seluruh kepentingan yang ada perlu diselaraskan agar bisa mengatasi perubahan iklim,” ujarnya.(**)


Comment